Blogroll

Label

Senin, 20 Juni 2011

Matahari, harapan, dan penerimaan

(Sajak-Sajak Abdullah Husein)

Matahari terbit di ufuk timur, dan terang pun memberkati
Pak tani usung cangkul ke sawah, rampungkan sengkedan untuk musim tanam nanti
Tapi, nun di barat sana gelap telah mengungkung
Seorang anak yang berdiri di tangga rumah panggung menatap langit
Sambil berbisik: “Cukuplah aku berteman rembulan”

*Padang, 18 Juni 2011, 08.44
Selengkapnya...

Selasa, 07 Juni 2011

Merenung...

Mungkin judul tulisan ini seharusnya tak hanya satu kata, barangkali harus ada tambahan apa yang direnungkan. Tapi disana hanya disambung oleh titik-titik. Titik-titik yang mari diawal tulisan ini kita anggap sebagai titik-titik kehidupan. ‘Tik’-‘tik’-‘tik’, titik tidak pernah berbunyi. Titik tidak pernah berhenti, tidak punya halte. Dan titik hanya akan diakhiri oleh satu titik dipenghujung garis kehidupan. Garis kehidupan telah digoreskan, jauh-jauh sebelum tubuh berisi nyawa ini terdampar di muramnya dunia. Berdampingan dengan semua yang telah diciptakan-Nya. Disana, juga ada manusia. Saya, kamu dan semua adalah para pengelana diatas garis yang masing-masing kita punya. Berjalan dengan satu arah tujuan yang pasti. Pasti karena memang sebuah Hukum. Hukum Sang Maha Pencipta yang kadangkala kita lupakan, atau sama sekali tak ingin kita ingat. Maka janganlah heran banyak hukum-hukum manusia yang dipreteli seenak perutnya, Hukum-Nya saja yang lebih Maha Berkuasa ‘dipreteli’ juga.

Sekarang!, sampai dimanakah titik-titik kita berdetik? Sampai dimanakah badan bercampur nyawa ini berjalan?. Kalaulah kita tahu, mungkin hanya ada sedikit masalah. Namun karena kita tidak tahu, janganlah kita memperbanyak masalah.

Kita sekarang sedang menjinjing sebuah keranjang. Keranjang kehidupan. Kepasar kita hanya sekali, jangankan dua kali atau lebih. Beringsut satu mili mundur saja kita tak mampu. Didepan telah tersedia bekal untuk kita beli. Ada bekal yang baik dan adapula yang tak baik. Pilihlah bekal yang baik. ‘Uang’ telah tersedia, tinggal kita membeli, mengisi keranjang untuk bekal dirumah nanti. Rumah yang tahan tsunami, tak retak dihoyak gempa. Tak lakang dek paneh, tak lapuak dek hujan. Karena memang bukan rumah biasa. Karena memang rumah kita semua, suatu saat nanti.

Titik-titik sedang berjalan, titik-titik tidak mau berbunyi, tapi kitalah yang sering membuatnya berbunyi. “Hidup ini susah !”, putus asa. “Hidup ini Cuma sekali, musti dinikmati...” Apanya yang musti dinikmati?, ialah mengisi keranjang dengan bekal yang baik. Atau sebuah bunyi : “Saudara-saudara !!! Hidup ini memang satu kali ! Tapi bukan untuk bersenang-senang !. Tapi untuk bekerja keras! Kerja keras untuk kebaikan di’rumah’ nanti. Mari...

Titik-titik akan segera berakhir. Pasti berakhir. Di penghujung titik garis dunia...

(01:00-25/03/2011-PdA)
Selengkapnya...

Senin, 06 Juni 2011

Bangun Lagi Yukk...( buat FLP unit UNP)

Bangun dari mati suri. Mungkin itu salah satu ungkapan yang pas disematkan kepada FLP unit UNP. Beberapa minggu lalu FLP unit UNP kembali menampakkan wajahnya, meski masih malu-malu. Setelah sekian lama vakum karena kekurangan sumber daya manusia. Untunglah masih ada sisa-sisa dari kepengurusan terdahulu yang masih tetap bersemangat dan tidak mau melihat FLP unit UNP tenggelam ditelan ketakberanggotaan. Namun bukan berarti yang lain juga tak peduli. Hanya karena kesibukan masing-masing, maklum sebagian sudah diwisuda sehingga tak sempat lagi mengurus FLP unit UNP.

Maka beberapa bulan lalu, lupa juga tepatnya bulan apa, diadakanlah ope recruitment anggota baru. Dan alhamdulillah peminatnya lumayan banyak. Kemudian follow up-nya dilanjutkan ke sekolah menulis selama beberapa minggu dan kemuadian ada wisudanya juga lho.

Setelah selesai diwisuda, sebagian wisudawan itu diamanahkan untuk kembali memberi nafas kepada FLP unit UNP yang hampir meregang nyawa.

Sekarang setelah kembali bisa bernafas, tentulah masih belum stabil. Namun tentu besar harapan kita pada apa yang telah dicapai pada hari ini agar terus ditingkatkan sehingga FLP unit UNP kembali menampakkan wajahnya di kampus UNP ini tanpa malu-malu lagi, dan juga tentunya kontribusi positif yang juga sanagt diharapkan.
Selengkapnya...