Mungkin judul tulisan ini seharusnya tak hanya satu kata, barangkali harus ada tambahan apa yang direnungkan. Tapi disana hanya disambung oleh titik-titik. Titik-titik yang mari diawal tulisan ini kita anggap sebagai titik-titik kehidupan. ‘Tik’-‘tik’-‘tik’, titik tidak pernah berbunyi. Titik tidak pernah berhenti, tidak punya halte. Dan titik hanya akan diakhiri oleh satu titik dipenghujung garis kehidupan. Garis kehidupan telah digoreskan, jauh-jauh sebelum tubuh berisi nyawa ini terdampar di muramnya dunia. Berdampingan dengan semua yang telah diciptakan-Nya. Disana, juga ada manusia. Saya, kamu dan semua adalah para pengelana diatas garis yang masing-masing kita punya. Berjalan dengan satu arah tujuan yang pasti. Pasti karena memang sebuah Hukum. Hukum Sang Maha Pencipta yang kadangkala kita lupakan, atau sama sekali tak ingin kita ingat. Maka janganlah heran banyak hukum-hukum manusia yang dipreteli seenak perutnya, Hukum-Nya saja yang lebih Maha Berkuasa ‘dipreteli’ juga.
Sekarang!, sampai dimanakah titik-titik kita berdetik? Sampai dimanakah badan bercampur nyawa ini berjalan?. Kalaulah kita tahu, mungkin hanya ada sedikit masalah. Namun karena kita tidak tahu, janganlah kita memperbanyak masalah.
Kita sekarang sedang menjinjing sebuah keranjang. Keranjang kehidupan. Kepasar kita hanya sekali, jangankan dua kali atau lebih. Beringsut satu mili mundur saja kita tak mampu. Didepan telah tersedia bekal untuk kita beli. Ada bekal yang baik dan adapula yang tak baik. Pilihlah bekal yang baik. ‘Uang’ telah tersedia, tinggal kita membeli, mengisi keranjang untuk bekal dirumah nanti. Rumah yang tahan tsunami, tak retak dihoyak gempa. Tak lakang dek paneh, tak lapuak dek hujan. Karena memang bukan rumah biasa. Karena memang rumah kita semua, suatu saat nanti.
Titik-titik sedang berjalan, titik-titik tidak mau berbunyi, tapi kitalah yang sering membuatnya berbunyi. “Hidup ini susah !”, putus asa. “Hidup ini Cuma sekali, musti dinikmati...” Apanya yang musti dinikmati?, ialah mengisi keranjang dengan bekal yang baik. Atau sebuah bunyi : “Saudara-saudara !!! Hidup ini memang satu kali ! Tapi bukan untuk bersenang-senang !. Tapi untuk bekerja keras! Kerja keras untuk kebaikan di’rumah’ nanti. Mari...
Titik-titik akan segera berakhir. Pasti berakhir. Di penghujung titik garis dunia...
(01:00-25/03/2011-PdA)
Selasa, 07 Juni 2011
Merenung...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar